Terimakasih Covid-19, Engkau Membersamai Kami di Bulan Ramadhan
Akhir tahun 2019 dunia dihebohkan dengan munculnya virus baru yang bernama coronavirus 2019 atau yang disebut denga covid-19. Konon covid -19 berasal dari kota Wuhan, China. Ketika covid-19 menyerang warga China, yang kemudian melebar sampai penjuru dunia, kehadirannya membuat disrupsi pada berbagai lini kehidupan. Banyak hal yang dipaksa berubah akibat hadirnya virus ini. Kebiasaan, budaya, regulasi , kehidupan dipaksa untuk berubah. Meminjam istilah Prof Rhenald Kasali bahwa covid 19 ini menyebabkan adanya disrupsi kehidupan.
Semua sendi sendi kehidupan, regulasi lama yang telah mendarah
daging, diubah demi pencegahan penyebaran covid 19. Sosial distancing harus
dilakukan, ketemu sesama saudara tidak ada lagi jabat tangan, sekolah-sekolah
dilakukan dengan pembelajaran jarak jauh online, warga mau keluar dibatasi dan
dihimbau untuk stay at home. Para
pegawai dan pekerja banyak yang melakukan pekerjaan dari rumah Work From Home WFM.
Imbas Covid-19 di bulan Ramadhan
Hadirnya
covid 19 di pangkuan pertiwi sangat terasa di bulan Ramadhan tahun ini. Jika
biasanya sore hari menjelang berbuka puasa banyak yang ngabuburit dan bagi-bagi
takjil, maka untuk Ramadhan tahun ini kegiatan itu sama sekali tidak ada. Masjid-masjid
yang biasanya menjelang berbuka puasa ramai dengan banyaknya acara mulai dari
pengajian hingga buka puasa bersama, di tahun ini kegiatan tersebut juga tidak
ada. Masyarakat sempat dibingungkan
dengan adanya himbauan dari pemerintah setempat. Ada yang membolehkan shalat
taraweh namun dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, namun di daerah
lain ada himbauan dari pemerintah setempat untuk melaksanakan shalat taraweh di
rumah nya masing-masing. Pada bulan Ramadhan di tahun ini juga tidak ada yang
melaksanakan buka puasa bersama, baik dari instansi-intansi, rekan kerja,
maupun buka puasa diluar bersama sanak saudara. Keadaan seperti ini tentu
membuat sepi bagi para pemilik rumah makan dan warung-warung lesehan, sehingga membawa dampak bagi perekonomian. Banyak
warga yang pendapatannya berkurang, bahkan sama sekali tidak mendapatkan
penghasilan.
Covid 19 membersamai kita
Ramadhan
tahun ini kita dibersamai oleh makhuk Allah yan tidak terlihat oleh mata yaitu
Covid 19. Hadirnya covid 19 di bulan Ramadhan ini selain merubah kebiasaan-kebiasaan yang
sudah ada juga membuat masyarakat resah. Keresahan bukan hanya karena covid 19 yang
ditakutkan dan mengancam jiwa, namun keresahan juga terjadi karena kondisi
masyarakat yang mulai tidak tenang. Di berbagai daerah keadaan sudah tidak
aman, banyak pencurian, penjambretan yang itu semua muncul karena faktor
perekonomian yang sedang terpuruk. Untuk mengantisipasi agar kejahatan tidak
semakin menjadi dan masyarakat juga tenang melaksanakan ibadah di bulan suci,
di berbagai daerah diterapkan sistem jaga malam, diberlakukan juga jam malam.
Adanya palang-palang pintu yang dibuat dadakan untuk mengantisipasi munculnya
kejahatan dan membatasi warga asing untuk masuk ke suatu daerah.
Perubahan
budaya, kebiasaan, perekonomian yang terjadi akibat hadirnya covid 19 terutama
di bulan Ramadhan ini membuat masyarakat berbeda dalam menyikapi dan menghadapinya.
Ada yang tetap tenang dalam menyikapi hadirnya covid 19 ini namun tetap waspada
dan ikhtiyar agar tidak kena virus yang mematikan tersebut tersebut. Ada juga
yang sangat bingung namun tidak mematuhi protokol kesehatan. Ada yang
memanfaatkan pandemi covid 19 ini dengan mengshare berita-berita hoak yang bahkan menjadikan masyarakat semakin
resah. Bahkan di beberapa WAG ada yang anggota grubnya malah adu argumentasi
tanpa tindakan nyata.....kan lucu.
Keadaan
seperti ini, pandemi yang sedang melanda Bangsa ini bahkan pandemi yang melanda
Dunia pada umumnya, perlu kita sikapi dengan bijak. Menentang dan memprotes
keadaan bukan merupakan solusi. Kita harus bisa berdamai dengan keadaan, bahkan
bersabahat dengan keadaan yang berbeda dan berubah dari Ramadhan-ramadhan
sebelumnya. Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari pendemi covid 19 ini. Jika
di tahun ini tidak ada acara buka puasa di luar rumah ini menandakan bahwa
rumahlah tempat terindah kita, tempat kita bersama bercengkrama dengan
keluarga. Anggap saja ini cara Allah untuk mengingatkan kita agar lebih mempunyai
waktu bersama keluarga, buka puasa bersama dengan keluarga dirumah, sholat
maghrib berjamaah dirumah ataupun di mushola samping rumah, kemudian dilanjutkan
dengan shalat taraweh. Ini merupakan anugerah yang tiada taranya yang mungkin
pada Ramadhan-ramadhan tahun lalu belum kita laksanakan sepenuhnya karena
kesibukan kita diluar rumah dan banyaknya agenda yang harus dilaksanakan diluar
rumah.
Himbauan dari pemerintah untuk tetap stay at home guna memutus rantai
penyebaran covid 19 ini, juga bisa kita maknai sebagai teguran dari Allah, kita
sudah sering meninggalkan rumah, entah karena urusan pekerjaan maupun kegiatan
yang lainnya, sehingga ini cara Allah untuk membuat kita berada dirumah saja.
bahwa kita sebaiknya memang dirumah, jika tidak ada sesuatu yang penting
sehingga mengharuskan kita keluar rumah. Himbauan dari pemerintah untuk stay at home ini akhirnya memunculkan
kebijakan Work From Home. Pekerjaan
yang semula dikerjakan di kantor, dikerjakan dirumah. Alhamdulilah ternyata
bisa juga, tentu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pandemi covid 19
ini memaksa kita untuk tetap di rumah dengan segala aktifitas yang bisa kita
laksanakan dari rumah. Kesabaran kita diuji, keimanan kita diuji, kekuatan kita
juga diuji, dan disaat seperti inilah waktu yang tepat untuk kita bermuhasabah
diri.
Menjalani
Ramadhan di tengah pandemi covid 19 ini terasa tenang dari Ramadhan-ramadhan
tahun sebelumnya. Adanya stay at home,
work from home membuat waktu kita
lebih banyak untuk melaksanakan amalan-amalan di bulan Ramadhan. Bermuhasabah
diri akan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, untuk selanjutnya kita
jadikan pijakan dalam melangkah ke depan nanti. Stay at home membuat kita mempunyai waktu yang lebih banyak untuk
membaca Kalam Allah yang selama ini
sering kita tinggalkan, bahkan kadang berhari-hari kita lupa menyentuhnya,
apalagi membaca dan mendalami makna yang terandung di dalamnya. Luangnya waktu
saat stay at home di bulan Ramadhan
dapat kita isi dengan membaca buku-buku yang sudah terbeli namun belum sempat
terbaca, buku apapun itu terlebih buku-buku agama yang akan semakin mendekatkan
diri kepada Sang Pencipta.
Luangnya waktu di bulan Ramadhan ini juga bisa
digunakan untuk mengikuti kajian-kajian Islam untuk memperdalam keilmuan kita. Bagi
saya pribadi bulan Ramadhan di tengah pandemi tahun ini terasa special, banyak
hal yang tak terduga yng bisa saya
laksanakan. Suka dukanya tak bisa diungkapkan satu persatu dalam tulisan ini.
Ramadhan di tengah pandemi covid 19 ini menjadikan saya belajar lebih sabar dan
ikhlas terhadap ketentuan ketentua Allah SWT.
Di tengah ujian yang memerlukan kesabaran ini, saya yakin tentu ada
hikmah yang terkandung di dalamnya, oleh karena itu kita harus senantiasa
bersyukur dalam setiap kejadian. Kita di uji berati kita mampu, kita
diperingatkan oleh Allah berati Allah sangat sayang kita. Semoga pandemi covid
19 ini bisa menjadikan pembelajaran bagi kita, sehingga kita bisa menjadi insan
yang lebih baik lagi dari kita yang sebelumnya. Aamiin
Pandemi
covid 19 yang membersamai kita di bulan Ramadhan ini juga mengajarkan pada kita
bahwa puasa itu tidak hanya menahan rasa haus dan lapar dari terbit fajar
sampai terbenam matahari, covid 19 ini juga mengajarkan kita agar bisa menahan
diri tidak menuruti keinginan kita, keinginan untuk keluar rumah, keinginan
ngabuburit, keinginan berbelanja, keinginan untuk buka puasa bersama diluar.
Ternyata keinginan itu semua bisa tertahan dengan adanya makhkuk Allah yang
tidak terlihat oleh mata, yaitu covid 19. Pandemi mengajarkan kita untuk lebih
menghargai kesehatan yang kita miliki, menghargai keluarga yang selama ini
mendampingi kita namun sering kita tinggalkan ataupun jarang ada waktu bersama
karena kesibukan masing-masing. Menghargai rekan kerja yang sehari-hari bersama
namun terasa ada yang berbeda saat dipisahkan sementara karena adanya pandemi
covid 19 ini.
Covid
19
Awal
hadirmu aku galau
Fikiranku
kacau
Namun...seiring
berjalannya waktu
Aku
sadar....bahwa hadirmu untuk mengingatkan aku
Hadirmu
memberikan pelajaran bagiku
Bahwa
aku yang selama ini mengejar duniaku
Diminta
untuk segera kembali dan bermesraan dengan Rabb ku
Tentang Penulis
Luluk Indarti lahir di Tulungagung 08 Mei 1978, bertempat
tinggal di Desa Sukorejo RT/RW:03/02 Karangrejo Kabupaten Tulungagung. Penulis
adalah Dosen aktif di IAIN Tulungagung. Pendidikan S1 PAI STAIN Tulungagung, S2
MPI STAIN Tulungagung, S3, MPI IAIN Tulungagung proses penyelesain Disertasi.
Beberapa buku solo dan antologi telah penulis hasilkan. Penulis juga aktif di beberapa kegiatan
sosial masyarakat. Ketua PAC Fatayat NU Karangrejo periode 2010-2014 dan
periode 2014-2018. Bendahara Lakpesdam NU Tulungagung periode 2015-2019 Wakil
Ketua PC ISNU Tulungagung periode 2018-2022. Bendahara LTN NU periode
2019-2024, Wakil Ketua PC Fatayat NU Tulungagung periode 2019-2024 . Dewan
Masjid Indonesia Kabupaten Tulungagung periode 2017-2021. Penulis dapat
dihubungi di no telp/Wa 085815777011 dan melalui email lulukhamdani@gmail.com
Komentar
Posting Komentar