Hikmah Lebaran bersama Corona
Tahun 2020 ini merupakan tahun pandemi; yang dialami oleh hampir semua negara di dunia, termasuk Indonesia. Negara dengan wilayah kepulauan ini, bersama-sama
dengan negara lain, juga menjadi sangat sibuk dalam menghalau pandemi tersebut;
yang selanjutnya terkenal dengan nama Covid-19. Banyak regulasi yang berubah sejak adanya pandemi ini. Guna memutus
rantai penyebarannya,
Indonesia menerapkan protokol kesehatan yang terdiri dari
social distancing,
wajib menggunakan masker dan
selalu cuci tangan dalam kehidupan sehari-hari. Selain protokol kesehatan, semua sektor kehidupan yang
terdampak pandemi juga menerapkan regulasi baru yang tidak seperti biasanya,
dengan satu tujuan yakni memutus rantai penyebarannya, tidak terkecuali pada
sektor pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan menerapkan regulasi baru berupa sistem
pembelajaran daring atau
online
dari jenjang pendidikan terendah sampai jenjang pendidikan tinggi. Sementara itu, semua pegawainya menerapkan WFH (Work
From Home).
Perubahan tradisi dan regulasi karena
adanya Covid-19 ini makin terasa saat bulan suci Ramadhan tiba. Banyak momen Ramadhan
tahun ini yang hilang;
tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Jika dulu selepas buka, semua orang
bersiap diri berangkat ke masjid untuk salat Tarawihl, tahun ini semua orang
dihimbau untuk melaksanakannya di rumah bersama keluarga, dan jika memang tetap
melaksanakan Tarawihl secara berjamah di masjid, maka protokol kesehatan tetap
harus dipatuhi. Semua momen
cantik selepas buka menguap begitu saja. Seperti butiran debu yang tersapu angin
sore. Di Ramadhan tahun ini, tidak terdengar lagi suara anak-anak yang saling
kejar-kejaran di pelataran masjid. Pun dengan suara kembang api yang biasanya
dibunyikan menjelang azan Isya’, suaranya yang menggema di semua sudut kampung,
kini tidak terdengar sama sekali. Suara-suara kembang api itu berganti suara
kekhawatiran dari orang-orang yang sedang berjuang melawan pandemi.
Semua orang
berharap, Ramadhan membawa angin segar bagi semua orang. Derajatnya yang suci
diharap bisa segera menyapu bersih pandemi ini, namun Tuhan memang masih
berkehendak lain. Tuhan masih ingin terus menguji hamba-hamba-Nya yang akan
naik kelas. Sehingga bukannya ada perubahan yang lebih baik,
seminggu sebelum lebaran keadaan masih sama, semuanya masih dalam pengawasan ketat Covid-19.
Lebih dari itu, tradisi ikhtiyar mendapatkan
Lailatul Qodar
juga berubah.
Tidak
seperti Ramadhan yang sudah-sudah. Jika biasanya, pada malam-malan ganjil bulan
Ramadhan, yakni malam 21, 23, 25, 27, dan 29, banyak umat Islam yang beri’tikaf
di masjid, maka tahun ini kegiatan i’tikaf dilakukan di rumah masing-masing. Tradisi maleman yang biasanya dibarengi dengan ambengan di malam-malam ganjil yang
bertempat di masjid ataupun musala,
tahun ini juga
nyaris tidak ada lagi.
Seminggu sebelum lebaran, berita yang mengatakan bahwa warga yang
dinyatakan positif Covid-19 meningkat semakin nyaring di telinga. Tentu saja, hal ini semakin membuat
warga resah. Apalagi
peningkatan jumlah kasus tersebut juga terjadi menjelang
lebaran. Jika biasanya lebaran disambut dengan meriah
dan persiapan yang luar biasa, tahun ini semua orang memilih untuk memperbesar rasa
prihatin dengan
keadaan, serta
mempertebal empati kepada mereka yang terdampak pandemi ini secara langsung.
Sehingga ritual belanja baju baru, yang biasanya membuat sibuk para karyawan
toko, tahun ini tidak lagi mencolok mata. Pemandangan tahunan itu mengalami
reduksi habis-habisan di tahun ini, meski masih ada juga sebagian toko yang dipadati oleh pengunjung. Walaupun
ada himbauan dari pemerintah untuk stay
at home, masih
banyak warga yang melakukan aktivitas
di luar rumah. Tapi yang jelas, belanja baju
baru atau
tidak, lebaran tetap datang juga. Dan tentu saja, lebaran yang datang ini
sangat berbeda dengan lebaran-lebaran sebelumnya. Di lebaran tahun ini, semua
orang dihimbau oleh pemerintah untuk melaksanakan salat Idul Fitri di rumah.
Dan bagi yang berada di zona hijau, dipersilakan untuk menggelar salat Idul Fitri
berjamaah dengan syarat protokol kesehatan terpenuhi dengan baik. Bagaimanapun
pelaksanaannya, saya tetap bersyukur, sebab di tahun ini saya masih bisa
menikmati hari kemenangan itu datang lagi, meski suasananya tidak sama lagi.
Semuanya
tampak sangat berbeda. Begitu juga dengan persiapan menyambut lebaran. Jika di tahun-tahun sebelumnya, seminggu bahkan
di pertengahan bulan Ramadhan masyarakat sudah sibuk menyiapkan kue-kue lebaran, di tahun ini pemandangan itu hampir tidak tampak lagi, jika ada,
aktivitas persiapan
kue lebaran terkesan sangat
sederhana. Warga membatasi diri untuk keluar
rumah.
Himbauan
dari pemerintah untuk
tetap stay at home dijalankan dengan baik.
Masyarakat sangat menyadari perekonomian
hari ini sedang terdampak
sangat dahsyat, jangankan berputar cepat, untuk berjalan saja sangat tertatih.
Sehingga dalam benak mereka,
jangankan
untuk membeli
kue lebaran,
untuk makan sehari-hari
saja terlihat berat.
Hal ini dikarenakan
penghasilan berkurang.
Bahkan
ada juga yang sampai kehilangan pekerjaan. Apa yang mereka alami saat ini,
sadar atau tidak, adalah manifestasi firman Tuhan tentang sabar dan penyerahan total sebagai hamba-Nya.
Tuhan tegas menggariskan firman-Nya dalam Alquran: “Hai
orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu,
sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Q.S Al-Baqarah: 153).
Himbauan pemerintah untuk tetap stay at home dan membatasi silaturahmi
selama lebaran Idul Fitri ini membuat masyarakat, termasuk saya, harus menyiapkan persediaan
makanan yang cukup selama
lebaran. Banyak dari
mereka, termasuk saya juga, pada hari-hari terakhir
Ramadhan berbelanja
bahan makanan untuk lima sampai
tujuh
hari ke depan.
Kebetulan, saya tinggal di
sebuah desa kecil yang akses keluar masuknya sangat dibatasi. Bahkan, jalan
utama desa musti dipasang portal pembatas agar siapa pun tidak mudah masuk.
Dan
portal akan dibuka pada jam-jam tertentu yang telah disepakati bersama.
***
Senja yang menggantung di luasnya cakrawala tampak sangat
tebal dan indah. Tidak terasa, beberapa butir air mata saya jatuh. Senja yang
indah di ujung sana tidak bisa membantu saya untuk tidak bersedih di ujung
Ramadhan ini. Senja itu tidak datang untuk menghibur, tapi ia datang sebagai
penjelas jika Ramadhan yang suci ini sudah saatnya pergi. Kesedihan ini semakin
menjadi-jadi tatkala saya ingat, sepanjang tiga puluh hari kemarin suasananya
tidak pernah sesakral dulu lagi.
Barangkali,
tidak hanya saya, Covid-19 tahun ini, juga membuat jutaan warga muslim dilanda kesedihan yang sama. Mulai nuansa Ramadhan yang
tidak seperti biasanya sampai
tradisi lebaran yang berubah musti
mereka lewati bersama. Namun akhirnya, semua kesedihan itu
sedikit menguap tatkala gema
takbir berkumandang dan menggema di mana-mana yang menandakan
hari kemenangan telah tiba. Meski
tidak
seperti biasanya, setidaknya
–tidak ada
takbir keliling dan kemeriahan
lainnya- esensi
dari Idul Fitri tidak
berkurang sedikit pun. Mereka semua tetap akan menjadi insan yang Fitri
lagi; terbersihkan dari dosa-dosa yang kerap kali menumpuk tapi lupa untuk
ditobati.
Himbauan
untuk stay at home selama Idul Fitri dan tidak mengadakan jamuan (open house) untuk silaturahmi selama pandemi, membuat kami berpikir bagaimana caranya agar bisa
tetap sungkem kepada
orang tua di sana. Dengan berbagai pertimbangan,
termasuk mengajukan perizinan kepada pihak desa, akhirnya, setelah salat Magrib
kami berangkat menuju rumah orang tua kami yang berjarak 25 km dari rumah kami.
Kunjungan kami sangat
terbatas. Sebab, jam 9 malam, jalan utama desa sudah ditutup dengan portal.
Selain itu, untuk memastikan bisa sampai ke rumah orang tua, kami menelepon
terlebih dahulu dan bertanya tentang kondisi jalan desa di sana. Alhamdulilah, kabar baik menghampiri kami. Jalan utama desa orang
tua kami masih bisa dilewati sebelum jam sembilan malam.
Diiringi takbir yang berkumandang, kami
menuju rumah orang tua kami. Rasa haru dan pilu, serta bahagia berfusi jadi satu. Haru dan pilu
karena besok tidak bisa merayakan Idul Fitri dengan kedua orang tua; yang
jarang bisa bertemu, dan bahagia sebab masih diberi kesempatan untuk sungkem meski
tidak seperti biasanya.
Kami yang berada satu kota dengan orang tua saja merasakan kesedihan
seperti ini,
lalu bagaimana
dengan saudara-saudara dan
teman-teman yang orang
tuanya
berada di luar kota? Mungkin, mereka akan merasakan sesuatu melebihi apa
yang saya rasakan. Bahkan ada juga, beberapa teman saya yang belum
bisa bertemu istri maupun suaminya
serta
anak-anaknya
karena diberlakukannya PSBB di sejumlah kota. Tapi saya juga yakin, mereka adalah orang-orang yang
kuat dan cerdas. Mereka sadar betul, apa yang mereka alami tersebut adalah
salah satu upaya ketaatan kepada pemerintah dalam membantu pemutusan rantai penyebaran
Covid-19.
Perjalanan
menuju orang tua kami membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Rumah yang melahirkan saya itu terletak
di pinggir
sawah; tenang dan
tentu saja sangat asri. Berjuta kenangan terbingkai sempuran di dindingnya.
Selalu ada sejumput rindu setiap dua kaki saya melangkah ke sana.
Saat kami tiba di sana, Bapak dan Ibu, serta adik saya satu-satunya, sedang sibuk di dapur. Mereka sedang menyiapkan kue lebaran
yang sangat sederhana; yang
mungkin hanya dinikmati keluarga sendiri.
Orang tua kami juga patuh
pada himbauan untuk tidak mengadakan open
house. Sebagai
gantinya, silaturahmi dilakukan secara
virtual.
Tradisi
menyiapkan kue lebaran sudah mengakar kuat di keluarga kami. Meski patuh pada
himbauan, tidak menghalangi keluarga kami menyiapkan kue lebaran. Kami masuk ke
rumah yang membesarkan saya itu. Selalu tercipta haru di sana. Pelukan hangat
Bapak dan Ibu tidak pernah berubah. Selalu ajaib dan hangatnya menyusup ke
semua aliran darah saya. Dua mata saya selalu panas; bersiap melelehkan ari
mata. Saya sudah berusaha menahan, tapi selalu sia-sia. Wajah Bapak dan Ibu
selalu menggaris ketegasan. Dan itu yang tidak pernah bisa saya lupakan.
Selamanya.
Setelah duduk sejenak, kami menyampaikan kepada kedua orang tua bahwa besok kami tidak bisa sungkem di hari
pertama lebaran seperti
biasanya. Saat menyampaikan itu, air
mata saya benar-benar membanjir di pipi saya. Terlebih lagi saat melihat
kondisi Bapak setahun terakhir ini.
Sejak mengalami stroke, Bapak sering kurang enak badan. Namun tidak sedikit
pun mengurangi keajaiban pelukannya. Malam itu, Bapak
menangis.
Kalimat
yang tersampaikan
kepada kami tidak begitu jelas. Tiap kata yang terucap terdengar cedal. Ibu juga demikian. Dua matanya seperti hendak menumpahkan air mata saat merapalkan
doa terbaik untuk kami.
Setelah sungkeman dengan keduanya selesai, saya
memegang erat tangan kedua
orang tua saya. Dalam hati kecil, saya berucap bahwa saya tidak ingin melepas
kedua tangan itu. Tangan yang telah berjasa besar menjadikan saya manusia
seutuhnya. Tangan yang tidak akan pernah bisa saya balas jasanya. Namun malam
itu, saya memang harus melepas tangan itu. Dan sebagai penutup, saya memeluk
adik saya. dan berpesan untuk terus menjaga mereka. Dan memastikan jika mereka
selalu baik-baik saja. Adik saya mengangguk pelan. Lalu kami berlalu dari
semuanya. Meninggalkan kenangan yang abadi di sana. Kami tidak bisa
berlama-lama di rumah itu. Sebab ada peraturan yang memaksa kami harus pulang
cepat.
Setelah
dari rumah orang tua kami, kami mampir ke ndalem-nya Embah, yang jaraknya tidak jauh
dari rumah orang tua kami. Beliau adalah satu-satunya Embah yang kami miliki
dari jalur Ibu. Kami memanggil beliau dengan sebutan Ma’e. Dan seperti
biasanya, setelah merapalkan doa-doa terbaik bagi kami, Ma’e juga minta
didoakan agar selalu sehat dan panjang umur sehingga bisa terus membersamai anak-anak,
para cucu, dan para buyutnya. Pesan Ma’e, saya juga harus selalu menjaga
kesehatan. Di ndaleme Ma’e ini, kami juga tidak bisa lama. Ada peraturan bersama yang musti kami patuhi. Jika
melanggar, maka kami tidak akan bisa masuk ke desa kami lagi. sebab jalan sudah
ditutup portal.
Allahu
Akbar,
Allahu Akbar,
Allahu Akbar,
Lailaha Illlallahu,
Allahu Akbar,
Allahu Akbar, Walillahihamdu. Pagi
yang indah nan cerah
di 1 Syawal
1441 H.
Takbir
kemenangan berkumandang dari berbagai arah. Suka duka dan beragam cerita menyertai lebaran Idul
Fitri ini.
Lebaran Idul Fitri ini menjadi ajang perjuangan yang panjang bagi umat Islam
karena lebaran tahun ini berada di tengah serangan dahsyat pandemi. Lebaran yang tidak mempertemukan sebagian dari kita
dengan orang tua, sanak saudara, suami maupun istri tercinta, serta anak-anak mereka. Tapi saya yakin, mereka yang tidak dipertemukan itu
adalah orang-orang yang sabar dan kuat.
Saya jadi
teringat lebaran
tahun lalu. Di hari pertama lebaran, biasanya saya bisa
berkumpul dengan Bapak, Ibu, adik, beserta keluarga dan
sanak saudara. Lebaran
tahun ini tidak bisa
seperti itu lagi. Maka sebagai gantinya, di hari pertama lebaran ini, saya silaturrahmi dengan
mereka
secara
virtual melalui
Vidio
Call.
Saat saya Vidio
Call dengan Bapak, tampak Bapak berusaha berbincang dengan
suara yang terbata-bata sambil meneteskan air mata. Seperti semalam, Bapak selalu menangis jika saya ajak bicara. Bapak seperti terus meminta maaf karena sudah terkena
stroke setahun yang lalu. Dan saya
selalu berusaha memahami itu.
Walaupun pada malam takbiran, kami sudah
sungkem dengan kedua orang tua dan Ma’e, namun tetap saja ada
suasana yang berbeda. Hal
ini karena
di antara saudara-saudara saya mulai
dari paklek,
bulek, misanan dan
adik,
hanya saya yang rumahnya jauh dan tidak satu desa. Jadi sudah menjadi tradisi mereka,
ketika lebaran pertama semua keluarga saya dari garis Ibu berkumpul di rumah Ma’e.
Dan setelah itu, mereka akan ke rumah Mbah Buyut yang juga berada dalam satu
desa. Sudah
8 tahun ini Mbah
Buyut
tiada. Namun kebiasan
itu masih tetap kami lestarikan.
Biasanya, di hari pertama itu saya masih
mendapat sangu, tidak
peduli meski saya sudah berkeluarga. Dawuhnya Embah; “ojo
disawang duite, iki dienggo jimat”. Selain sangu, biasanya saya juga
dibawain beras oleh
Embah. Jika sangu hanya diberikan saat lebaran, maka beras
diberikan tiap kali saya
berkunjung ke sana. Embah saya adalah petani, pemberian itu adalah salah satu bentuk
syukurnya. Tapi lebaran tahun ini, sangu itu tidak mendarat ke saku saya lagi.
Lebaran
tahun 1441 H ini memang kondisinya
berbeda.
Namun kami
yakin, semua
pasti ada hikmahnya. Jika di tahun-tahun sebelumnya ketika lebaran pertama kami
tidak bisa berkumpul dengan keluarga dari suami, untuk tahun ini karena semua tidak ada yang mudik, kami bisa
berkumpul bersama di rumah saya. Inilah hikmah luar biasa tersebut. Hikmah dari
adanya pandemi.
Hikmah
dari adanya himbauan pemerintah untuk stay
at home selama lebaran ini. Ketika ada perubahan yang tidak seperti
biasanya, maka yang bisa kita lakukan adalah berteman bahkan bersahabat dengan
perubahan itu, sehingga dari yang tidak biasa lama-kelamaan akan menjadi biasa.
Berubah itu suatu keniscayaan, karena apa pun itu tidak ada yang abadi.
Bahkan kesedihan maupun kebahagiaan juga tidak ada yang abadi.
Tiada kesusahan
yang kekal
Tiada
kegembiraan yang abadi
Tiada kefakiran
yang lama
Tiada kemakmuran
yang lestari
-Imam Syafi’i_
Penulis, Luluk
Indarti lahir di Tulungagung 08 Mei 1978, bertempat tinggal di Desa Sukorejo
RT/RW:03/02 Karangrejo Kabupaten Tulungagung. Penulis adalah Dosen aktif di
IAIN Tulungagung. Pendidikan S1 PAI STAIN Tulungagung, S2 MPI STAIN
Tulungagung, S3, MPI IAIN Tulungagung proses penyelesain Disertasi. Beberapa
buku solo dan antologi telah penulis hasilkan.
Penulis juga aktif di beberapa kegiatan sosial masyarakat. Ketua PAC
Fatayat NU Karangrejo periode 2010-2014 dan periode 2014-2018. Bendahara
Lakpesdam NU Tulungagung periode 2015-2019 Wakil Ketua PC ISNU Tulungagung
periode 2018-2022. Bendahara LTN NU periode 2019-2024, Wakil Ketua PC Fatayat
NU Tulungagung periode 2019-2024 . Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Tulungagung
periode 2017-2021. Penulis dapat dihubungi di no telp/Wa 085815777011 dan
melalui email lulukhamdani@gmail.com
Komentar
Posting Komentar