Menenun Asa Di Kaki Bromo

 

(Catatan Kecil dari Bilik Lava View Logde)

 

 Saat ada informasi bahwa tempat saya mengabdi; IAIN Tulungagung, tepatnya Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan akan mengadakan Rapat Kerja di Probolinggo, saya sedikit terkejut. Sebab, Tulungagung-Probolinggo, bukanlah jarak yang dekat. Dan semua sudah mafhum, jika Bromo –tepatnya di Lava View Logde-; yang menjadi lokasi Raker, merupakan dataran tinggi yang, tentu saja, sangat dingin. Mendengar kata “dingin” membuat saya ragu untuk mengikuti acara ini. Sebab sampai detik ini, dingin masih menjadi pantangan tubuh ini.


Sejak dulu, satu hal yang paling saya takuti ketika mengadakan kegiatan di luar adalah suhu udara yang dingin. Tapi saya tidak akan menyerah begitu saja. Saya harus membulatkan niat dan tekad. Saya harus melawan. Saya tidak ingin kalah lagi melawan dingin. Dan saya putuskan, saya akan terlibat dalam acara ini.


Di WAG Raker, ada broadcast bahwa bagi yang tidak bisa ikut harap segera menyampaikan alasan yang tepat, dan hanya  udzur syar’i” yang bisa dimaklumi serta diizinkan untuk tidak mengikuti acara tersebut. Hal ini membuat tekad saya yang sudah bulat tadi sedikit terganggu. Dalam hati kecil saya, tiba-tiba saja ada pertempuran yang dahsyat: “ya” atau “tidak”. Dan untuk menyudahi semuanya, saya harus berdiskusi dengan sang suami. Hasilnya: “ikut saja karena itu bentuk dari tanggung jawab sebagai pengelola, husnudzon sehat, insya Allah sehat,” tuturnya. Kalimat sakti yang keluar dari suami saya, membuat tekad saya kembali menyala. Sehingga hari itu, menjadi hari yang sangat sibuk bagi saya. Banyak hal yang musti saya siapkan sebagai konsekuensi pilihan saya. Mulai jaket, sepatu, masker, syal, dan obat-obatan menjadi deret antrian yang akan masuk dalam koper  saya. Semua saya kemas dengan rapi. Saya berharap, persiapan saya cukup untuk melawan dinginnya udara di sana; di kaki Bromo.


Broadcast yang saya terima mengatakan, bahwa Raker Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan tahun 2020 ini dilaksanakan pada tanggal 13, 14, 15 Maret 2020, dengan titik keberangkatan di kampus IAIN Tulungagung tepat pukul 06.30 pagi. Semuanya akan berangkat menggunakan armada Hiace yang disediakan oleh pihak kampus.


Panitia Raker menyarankan bahwa semua peserta diharap untuk sarapan terlebih dahulu, sebab mereka hanya menyediakan makan siang. Maka pagi-pagi sekali, sebelum berangkat ke kampus, saya menyempatkan untuk sarapan meski jarum jam di dinding dapur sudah berada di angka 06.30. Dan saya sadar betul, perjalanan saya dari rumah sampai ke kampus akan memakan waktu 30 menit, hal ini berarti, saya akan terlambat. Kepanikan mulai merayapi kepala saya. Tapi tak mengapa, telat sedikit yang penting saya sudah sarapan. Sebab berjudi dengan kesehatan tubuh bukan pilihan yang masuk akal.


Sepuluh 10 menit berlalu, ritual sarapan, saya selesaikan dengan baik. Setelah itu, saya bersiap berangkat ke kampus dengan perut yang yang bisa dipertanggungjawabkan. Dengan diantarkan suami saya meninggalkan rumah menuju kampus. Kendaraan kami mulai melahap karpet hitam itu. Kami tampak sangat terburu, namun saat kami sampai di pertigaan Ngujang, telepon saya berdering, ada nama Bu Nita tercetak di layarnya, dengan suaranya yang khas itu, beliau mengatakan: “Bu, tidak usah tergesa-gesa, di kampus masih sepi, saya sudah carikan tempat duduk.” Apa yang disampaikan oleh Bu Nita tidak hanya membuat saya lega, tapi suami saya juga ikut tersenyum mendengarnya.


Sekitar pukul 6.45 saya tiba di kampus, tampak dari kejauhan, terlihat jejeran mobil Hiace putih yang terpakir rapi. Suami segera menghentikan mobil, lalu dengan restunya yang utuh, saya melangkah turun, dan segera menuju Hiace dengan nomor 3; armada yang akan membawa saya dan rombongan ke Bromo. Tapi kursi-kursi di dalamnya masih lengang. Saya mengembuskan napas panjang, ungkapan kelegaan dan kemakluman. Yah, namanya orang banyak, meski sudah disampaikan berangkat jam 06.30 tapi tetap saja molor. Jam karet masih belum hilang dari kebiasaan kami. Sambil menunggu yang lain, saya dan beberapa teman segera masuk ke Hiace. Dan sebagai emak-emak milenial, tentu saja, kami tidak melewatkan aktivitas wajib kami: Selfy!


Pukul 08.00 tepat, dengan bacaan Bismillahirrahmanirrahim, semua rombongan berangkat ke Bromo. Keceriaan wajah teman-teman sudah terpancar sejak tubuh gemuk Hiace melewati gerbang utama kampus. Semuanya terasa lengkap, tatkala Pak Wandi, koordinator Hiace kami, melempar kalimat-kalimat jenaka. Riuh tawa bercampur semangat memenuhi seisi tumpangan kami. Perjalanan masih teramat panjang, tapi aneka camilan sudah keluar. Ketika ada yang bertanya, maka kami menjawab: “Kami adalah emak-emak yang takut kelaparan, diet bisa dilakukan esok hari, atau lusa”. Sesaat berikutnya, kami kompak tertawa.


Satu setengah jam terlewat. Rombongan berhenti di sebuah rest area yang ada di Blitar. Sebagian ada yang ke toilet dan sebagian lagi ada yang memilih nyantai sambil menikmati secangkir ngopi dan beberapa camilan. Sementara saya sendiri memanfaatkan waktu istirahat ini untuk nge-popmie. Meski sudah sarapan, tapi perut ini tetap pingin diisi, lagi dan lagi. Gendut? Lupakan! Yang penting sehat dan bahagia, ucap saya dalam hati.


Kurang lebih 30 menit kami di rest area. Kami melanjutkan perjalanan. Saat memasuki kota Malang yang udaranya sejuk itu, pikiran saya mengular. Mengais kepingan kenangan yang dulu sempat saya tinggalkan di kota ini. Senyum saya menyeruak kemana-kemana. Dan tidak lama kemudian, rombongan berhenti lagi karena Bapak-bapak hendak menunaikan salat Jum’at. Sambil menunggu mereka yang salat Jum’at, kami, para Ibu, menikmati makan siang yang disediakan oleh panitia. Namun sayang, nafsu makan saya dan beberapa teman saya masih malu-malu. Kami masih belum kepingin makan. Sebab, Popmie kami masih utuh di perut. Kami pun memilih untuk turun dari Hiace untuk sekadar menikmati suasana sejuk kota Malang. Kurang lebih satu setengah jam dua mata saya tercuci bersih oleh pemadangan yang ada disana. Dan Bapak-bapak sudah kembali dari salat Jum’at. Rombongan segera melanjutkan perjalanan.


Di saat rombongan kami hendak lepas dari Malang, ada satu rombongan yang sudah sampai di lokasi Raker, yakni rombongan panitia yang memang tidak ikut berhenti di Malang. Mereka sudah mulai memprovokasi kami dengan foto-foto yang indah nan lucu dengan view gunung menjulang dan segara wedi yang menghitam. Melihat kenyataan itu, membuat saya dan teman-teman menjadi sangat tidak sabar untuk segera sampai disana.


Malang sudah hilang dari pelupuk mata kami dan hawa sejuk Bromo mulai menggelitik kening kami. Perjalanan ini menjadi sangat indah ketika rintik hujan dan kabut tipis mulai menabraki kaca jendela tumpangan kami. Hiace mulai melewati jalanan yang berkelok dan berliku. Tapi semuanya tidak kami rasakan, sebab di sepanjang perjalanan, yang kami lihat adalah pemandangan yang indah menghijau, banyak tanaman sayuran di sepanjang jalan, dan wajah-wajah penduduk yang, menurut kami, asing. Kami melihat para wanita mengenakan sarung yang ditaruh di bagian tubuh atasnya dengan ditalikan saja sambil membawa gendongan yang entah berisi apa. Saya menduga, sarung di bagian tubuh atas itu adalah cara mereka untuk mereduksi dingin udara disana.


Jalan yang kami lewati semakin menanjak. Sehingga AC mobil harus segera dimatikan agar tarikannya ringan. Rintik hujan yang semakin besar dan jalan yang licin, serta kabut yang semakin menebal, membuat jantung kami berdebar-debar juga. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain merapal doa, dan selebihnya adalah pasrah sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Dan akhirnya, dengan melepas napas lega, Alhamdulillah, pada pukul 16.30 rombongan kami sampai juga di Lava View Logde; hotel cantik yang akan menghangati kami selama kegiatan Raker.


Hawa dingin datang menandak-nandak saat kaki saya turun dari Hiace. Langkah pertama yang saya lakukan adalah menyiapkan syal dan masker. Meski belum mengenakan jaket, paling tidak ini bisa membantu saya mengurangi rasa dingin. Setelah menunggu beberapa saat kami mendapatkan kunci kamar, yang diambil Bu Dwi; rekan kerja yang saat ini menjabat sebagai KaProdi Tadris IPS. Kami mendapatkan kamar di F6. Dalam pikiran saya, saya harus sesegera mungkin di dalam kamar untuk menghangatkan badan.


Di kamar F6, kami tidak hanya berdua. Tapi kami berempat. Kamar kami ini berada di lantai dua di pojokan. Setelah semua siap, kami berempat bergegas menuju kamar. Kami segera membuka kunci kamar dengan ucapan basmalah, dan tentunya tak lupa mengucapkan salam kepada ‘penghuni’ kamar ini.


Saat masuk kamar, nuansa kamar ini kayak ruangan jaman dahulu, di kamar luar   ada kursi kayu berukiran warna hitam yang berbentuk L, ada dua single bed dengan selimut warna merah dan televise jadul terpasang di rak kayu yang menyatu dengan dinding, kemudian saya beranjak ke kamar dalam. Masih dengan nuansa kuno, di dalam ada double bed dipan kayu dan selimut merah, ada juga meja rias kuno kayak jaman belanda. Awalnya saya pingin tidur di kamar dalam  ini, karena saya fikir di kamar dalam tentu lebih hangat daripada tidur di kamar luar yang menyatu dengan ruang tamu. Namun setelah melihat kamar dalam, entah mengapa hati saya tidak sreg.Saya memilih tidur di kamar luar, dan Bu Dwi sama Bu Tutik mengiyakan saja. Tas saya bawa keluar lagi dan saya letak kan diatas tempat tidur. Di dalam kamar ternyata rasa dingin tidak berkurang, bahkan semakin mengganas, sehingga niat saya untuk mandi langsung saya batalkan. Akhirnya, saya hanya mengambil air wudhu kemudian melaksanakan salat Jamak Ta'khir. Dan setelah itu, saya rebahan untuk melemaskan otot-otot yang kaku sambil mengabarkan kepada yang di rumah bahwa saya dan rombongan sudah sampai Bromo.


Ponsel saya berbunyi, ada pengumuman di WAG Raker bahwa coffe break sudah siap di lantai bawah. Namun pengumuman itu tidak mampu menggoda saya dan yang lain untuk turun. Alasan kami hanya satu: Dingin! Masih sambil rebahan, saya memperhatikan Bu Nita yang tampak sibuk memompa ASi, dengan suara “nguk nguk nguk” yang lucu. Saya tersenyum kecil. Bu Nita menoleh saya sebentar, lalu membalas senyum saya. Saya pingin bisa mengatubkan dua mata meski hanya sebentar, dengan harapan nanti bisa fresh saat acara pembukaan Raker. Namun mata ini sulit terpejam, hawa dingin mengusai semuanya. Karena tidak terlelap Bu Nita mengajak saya ke kamar Bu Ummu untuk menitipkan ASI hasil “nguk nguk nguk”. Begitu masuk kamar Bu Ummu saya sama Bu Nita saling berpandangan, kok nuansa kamarnya berbeda ya….? Tidak singklu seperti kamar kami.


Setelah salat Magrib, dan sekalian Jamak Taqdhim Isyak, kami berempat memutuskan untuk turun menikmati coffe break. Saat di bawah, kami melihat ada beberapa penjual topi, syal, sarung tangan dan masker. Kami langsung menuju ke tempat coffe break dan menikmati snack yang ada sambil menikmati bunyi tik tok tik tok yang bersumber dari pedagang bakso yang ada di depan sana. Ini momen yang pas sekali. Kami saling bertatap mata, keputusan kami sama. Makan bakso panas di suhu yang dingin adalah mengasikkan. Kami pun memesan bakso dan menikmatinya di tengah rintiknya hujan di kaki gunung Bromo.


Usai menikmati bakso, kami terfokus pada penjual topi dan aksesorisnya yang sejak tadi berkerumun di samping coffe break. Karena mereka memakai bahasa Madura, kami pun harus dimediasi oleh Pak Ali Cimestry, setelah tawar menawar, akhirnya kami berhasil mendapatkan harga yang disepakati.


Sebelum acara pembukaan Raker dimulai, peserta Raker menikmati makan malam terlebih dahulu yang telah disediakan. Saya harus makan yang banyak. Dan semuanya harus bersahabat dengan perut saya yang sensitif dengan beberapa makanan. Sedangkan untuk minumannya, favorit saya masih Hot Milk Tea. Selesai makan, peserta masuk ke ruang pertemuan untuk mengikuti acara pembukaan Raker.


Rapat Kerja Tahun 2020 Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Tulungagung ini dibuka oleh Wakil Rektor 1 Bapak Dr. H. Abd Aziz, M.Pd.I. Sementara pejabat yang hadir adalah Wakil Rektor 2, Bapak  Dr. H. Saifuddin Zuhri, M.Ag., Wakil Rektor 3, Bapak Dr. H. Abad Badruzzaman, LC., Kabiro Bapak Drs, H Samsi, S.Ag., Ketua LP2M, Bapak Dr, Ngainun Naim, M.HI., Ketua LPM Bapak Dr H Asyrof Syafi’i, M.Pd.I., dan Bapak  Dr Syamsu Ni'am dari Senat. Untuk sambutan dan arahan disampaikan oleh Bapak Wakil Rektor 1 dan Ibu Dekan. Raker dimulai dengan beberapa agenda diantaranya adalah evaluasi Program Tahun 2019 yang dipandu secara bergantian oleh Wakil Dekan 1, Wakil Dekan 2 dan Wakil Dekan 3, dan dilanjutkan arahan dari Bapak Kabiro yang khusus terkait dengan penyusunan anggaran dan usulan program yang harus memperhatikan skala prioritas.


Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 dan dingin semakin menggila; terasa menusuk-nusuk tulang. Peserta Raker ada yang masih terjaga dan ada juga yang sudah tak kuat menahan rasa kantuk. Dan sekitar pukul 23.30, acara berakhir dan kami kembali ke kamar masing masing. Sesampainya di kamar, saya wudlu lalu minum vitamin sebagai ikhtiyar agar tetap sehat. Tak lupa memakai peralatan lengkap, jaket super tebal, kaos kaki, sarung tangan lalu kemudian bersembunyi di dalam selimut yang terasa basah karena dinginnya malam. Saat hendak memejamkan mata, saya kembali mendengar bunyi “nguk nguk nguk” yang lucu. Bisa ditebak, Bu Nita sedang memompa ASI-nya lagi. Maklum, beliau belum setahun melahirkan, jadi ASI-nya sedang banter-banternya. Saya tersenyum lagi, dan beliau ikutan tersenyum. Selanjutnya, dua mata saya sudah mengatub dengan rapat. Rasa kantuk yang luar biasa dan cita-cita mulia untuk bisa mengikuti out-bound esok hari.  Namun, sebelum terlelap, saya mendengar suara sedikit gaduh di kamar bagian dalam yang ditempati oleh Bu Dwi dan Bu Tutik. Saya menjadi sangat penasaran untuk melihat. Ternyata suara itu berasal dari Bu Dwi, yang memang super semangat dan lincah,  sedang berbenah dan bongkar-bongkar tas ranselnya, sementara di sebelahnya ada Bu Tutik sedang salat Tahajud. Setelah penasaran saya terpuaskan, saya kembali ke tempat tidur, menyetel alarm dan segera menghitung bintang di alam mimpi. Jam 3.15 alrm saya berbunyi, saya lihat Bu Nita sudah “nguk nguk nguk” di ranjang sebelah, beliau mengeluh katanya tidak bisa tidur. Saya segera ambil wudhu dan shalat tahajud, brrrrr dingin banget membuat saya tidak betah berlama lama diatas sajadah. Mata juga tak kuat lagi diajak berjaga menunggu shalat subuh.  Saya lihat Bu Nita jg sudah terlelap tidak “nguk nguk nguk” lagi


Pagi menjelang, pagi hari di kaki Bromo, memang sangat dingin. Membuat saya malas beranjak dari tempat tidur, apalagi mandi, Huft, masih jauh dari harapan. Di saat seperti itu, saya lihat Bu Dwi sudah dandan cantik siap keluar. Kata beliau, di luar matahari tampak sangat cantik. Cahanya akan menghangatkan tubuh kami yang sejak kemarin dihantam dingin yang tak berkesudahan. Saya setuju. Dan kami ber empat keluar kamar dengan semangat yang utuh.


Sembari menunggu sarapan yang sedang disiapkan, kami emak-emak milenial, tidak akan pernah melewatkan kewajiban kami di depan kamera. Berbagai pose sudah terabadikan; yang lengkap dengan view lautan pasir Bromo. Hotel kami memang cerdas memilih bangunannya. Dua matanya yang besar tepat berada di depan wajah Bromo yang berdiri kukuh. Terlihat juga dari hotel itu, deretan Hardtop yang berjalan pelan di lautan pasir. Tampak dari mata kami, deretan Hardtop itu layaknya mobil-mobilan yang sedang dimainkan. Ukurannya menjadi sangat kecil karena jarak pandang yang jauh.


Setelah acara sarapan selesai, dilanjutkan dengan out-bound yang dipandu oleh tim dari Malang. Peserta Raker kelihatan sangat antusias mengikuti outbound ini, tidak terkecuali saya. Instruktur tersebut sangat piawai membuat suasana hangat dan meriah. Semua bebas bergerak dan berteriak sekuatnya. Kami bermain, tertawa bersama layaknya anak kecil, dan melupakan sejenak semua beban pikiran, beban kerjaan serta beban-beban lainnya. Ada satu hal hal yang saya ingat dari perkataan instruktur itu: “Jawablah, berteriaklah sekuatnya untuk menghilangkan stress, kalau keadaan ramai seperti ini dan Anda masih diam berati Anda stress!Jleb. Kalimat itu serupa meriam. Meledak bebas di hati kami yang selalu berikrar sebagai orang yang baik-baik saja meski nyatanya kami adalah manusia-manusia yang tiap detik dihantui stress.


Game terus berlangsung dan peserta tetap antusias di bawah hangatnya matahari pagi. Ada pembagian kelompok di acara Game ini. Ada kelompok Lava Ambyar; kelompok saya sendiri, Temu Lawak , dan Cendol Dawet. Game berjalan semakin seru. Usia tidak mempengaruhi kita untuk bersama. Tidak ada canggung yang harus dicipta. Semua sama. Sehati, seirama.


Selesai outbound, saya, sendirian, kembali ke kamar duluan. Sementara yang lain masih asik menikmati pemandangan. Kali ini tidak seperti biasanya saya tidak ada keinginan untuk selfy di dalam kamar. Saya sengaja ke kamar duluan karena semenjak kedatangan kemaren, saya belum sempat mandi; atau tepatnya takut mandi.


Tidak berselang lama setelah saya mandi, Bu Tutik menyusul ke kamar. Beliau mengabarkan bahwa semua peserta Raker harus segera siap untuk melanjutkan kegiatan Raker. Setelah semua siap, kami penghuni kamar F6 bergegas menuju ruang utama Raker.


Hari itu, peserta Raker dibagi menjadi 3 komisi. Saya berada di komisi 3 yang mendiskusikan tentang Manajemen dan Sarana; yang dikoordinatori oleh Wakil Dekan 3. Banyak hal yang dibahas oleh komisi 3, mulai kelengkapan laboratorium sampai sarana-sarana yang dibutuhkan perjurusan untuk menunjang perkuliahan. Semua komisi seperti tidak pernah kehabisan semangat. Kami semua antusias mendiskusikan masing-masing bidang garapan komisi kami. Hujan lebat yang turun tidak berkutik di depan kami. Petirnya yang menyambar-nyambar hanya sia-sia di depan kami. Kami bergeming; tetap menjadi manusia-manusia super yang mempertangungjawabkan tugas-tugas kami.


Panitia sangat peka akan kebutuhan kami. Mereka seperti bisa membaca hati kami. Tanpa megungkapkan apa yang kami minta, mereka sudah menyiapkan semuanya,  termasuk wedang jahe panas. Di tengah-tengah acara Raker kami, isu wabah Corona menyeruak. Sehingga ada himbauan jika kami, peserta Raker, harus ektra menjaga kondisi tubuh. Antisipasi-antisipasi harus dilakukan untuk memutus penyebaran virus itu.


Waktu merayap dengan sangat cepat. Tidak terasa jatah waktu yang diberikan kami untuk berapat kerja sudah habis. Sehingga kami hanya bisa berharap, semoga Raker tahun 2020 ini, bersamaan dengan merebaknya isu wabah Corona membawa keberkahan dan kemajuan pada IAIN Tulungagung, terkhusus pada FTIK. Doa kami semua, semoga para tenaga pendidik, kependidikan, mahasiswa dan keluarga senantiasa diberikan kesehatan hingga terus bisa mengabdi di kampus tercinta ini. Amin.


Setelah closing ceremonial selesai, pada pukul 15.30 sore kami meninggalkan Lava View Logde dengan beragam cerita dan kisah. Untuk kepulangan, rombongan terbagi menjadi dua, ada yang lewat Malang dan ada yang lewat Surabaya.


Syukur Alhamdulillah, perjalanan pulang sangat lancar. Meski personil di rombongan Hiace 3 berganti, karena ada yang ikut mobil lainnya dan ada yang turun di Probolinggo, ada juga tambahan personil dari Hiace lainnya, tidak mengurangi kehangatan kebersamaan kami selama perjalanan pulang.


Sejak kemarin kami seperti menabung lelah, dan perjalanan pulang itu menjadi momen kami untuk merasakan tabungan kami. Kepala saya mulai terasa pusing, saya juga merasakan mual pingin  muntah. Hal itu tidak hanya terjadi pada diri saya. Terjadi juga pada Bu Dwi dan Bu Khusna.  Memang benar pepatah mengatakan: “Sedia payung sebelum hujan”. Apa yang saya siapkan sebelum keberangkatan memainkan perannya ketika itu. Obat-obatan yang saya siapkan mampu meredam ketidak nyamanan yang kami rasakan.


Sekitar  jam 22.00, rombongan masuk kota Tulungagung, saya turun di pertigaan Ngunjang, karena lebih dekat jarknya dari rumah daripada saya turun di kampus. Saya ingin berbagi kisah secepatnya dengan laki-laki; yang lusa kemarin mengajari saya tentang kekuatan Husnudzon, tentang kekhawatiran-kekhawtiran yang harus diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan.


Terimakasih Tuhan Yang Mahakuat. Terimakasih organ-organ tubuh yang terus bergerak, terimakasih senyum dan semangat kalian, terimakasih rasa pusing dan mual, terimakasih rintik hujan dan petir yang menyambar. Terimakasih semua. Terimaksih semesta. Dengan semuanya kita bisa belajar, bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak layak kita terimakasihi.


Terus belajar berhusnudzon, ikhtiyar dan memasrahkan segalanya pada Sang Pencipta. Semoga kita terus dibersamakan dalam agenda-agenda berikutnya. Aamiin…

Pernah diterbitkan dalam antologi bersama "Rekaman Rapat Kerja dalam Tulisan; Senarai Kisah, Harapan, dan Dokumentasi di Bromo" Akademia Pustaka, 2020.

Tentang Penulis

Penulis bernama Luluk Indarti,  dosen aktif IAIN Tulungagung yang hobi ngemil dan traveling. Penulis saat ini sedang merampungkan disertasi dan tulisan yang terkemas dalam sebuah novel. Buku solo dan antologi telah penulis hasilkan. Persahabatan dengan banyak wajah dan pikiran menjadikan penulis  rajin berimajinasi. Selain itu, penulis juga aktif dalam kegiatan sosial di masyarakat. Penulis dapat dihubungi di no 085815777011 dan melalui email lulukhamdani@gmail.com serta bisa   dikunjungi di media sosial Facebook Lulux Indarti.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terimakasih Covid-19, Engkau Membersamai Kami di Bulan Ramadhan

Manajemen Waktu: Strategi Work From Home di Tengah Pandemi Covid-19

Corona, Daring : Paket Data dan Lika Likunya